
Selama ini banyak suara sumbang ditujukan kepada anggota DPR/MPR. Bahkan di saat Pemilu banyak yang memilih menjadi Golput, atau mencoblos partai baru karena kecewa dengan anggota Dewan yang dulu mereka pilih. Melalui tulisan Baharudin Aritonang; seorang anggota Dewan, yang disarikan dari buku Ketawa Ngakak di Senayan, kita akan mengetahui keseharian anggota legislatif di Gedung DPR/MPR. Ternyata banyak cerita humor lucu yang menghiasi keseharian mereka
Soal Pakaian
Di masa reformasi pakaian pejabat negara menarik untuk diperhatikan. Lebih beragam dibanding dengan masa Orde Baru yang lebih seragam. Di masa Orba, pakaian pejabat pemerintah [dari menteri sampai lurah] maupun anggota DPR adalah safari berlengan pendek untuk sehari-hari, dan safari lengan panjang untuk upacara. Di malam hari mereka memakai batik berlengan panjang.
Nah, kini, pada masa reformasi ini, sudah jarang kita menemukan jenis pakaian safari tadi. Paling-paling satu dua saja yang mengenakan. Dan, kalau itu terjadi, akan muncul komentar : seperti Pak Lurah saja!
Untuk kemeja batik lengan panjang, seperti yang biasa dikenakan Nelson Mandela dari Afrika Selatan itu, masih lumrah kita temukan. Bahkan ada yang sehari-hari memakai batik. Misalnya, Bobby Suhardiman dari Fraksi Karya Pembangunan atau Roy B. Janis dari PDI Perjuangan.
Yang umum dipakai tentu saja PSL alias Pakaian Sipil Lengkap, yaitu jas bersama dasinya. Tidak sedikit yang memakai jas berharga puluhan juta. Tapi, ada juga yang tak suka pakai jas. Mas Permadi tenti dengan pakaian khasnya, hitam-hitam. Panda Nababan terkadang bercelana jin dan berjaket, karena menurut dia, jas itu mengganggu, “Terutama dasinya!” ucapnya.
Pakaian yang dikenakan anggota-anggota Kabinet juga bervariasi. Menteri PAN [Pemberdayaan Aparatur Negara] Faisal Tamin dan Menteri Sosial Bachtiar Chamzah senang mengenakan pakaian harian berwarna senada dan berlengan panjang. Susilo Bambang Yudoyono sesekali bersafari, sedangkan Yusuf Kalla berdasi. Menko Perekonomian Dorojatun Kuncorojakti senang berpantalon lengkap dengan jas dan dasi. Mungkin itu erat kaitannya dengan suasana politik kita.
Dalam rapat kerja bulan September 2003 yang antara lain membahas Surat Utang Negara [SUN] Hafiz Zawawi dari partai Golkar, memuji penampilan Menteri Keuangan Budiono yang mengenakan PSL. Rupanya, sebelum rapat Budiono melantik Eselon II Ditjen Pajak di Depkeu.
“Nah, begitulah Pak Menteri. Jangan seperti biasanya, hanya mengenakan baju biasa berlengan pendek,” katanya, sembari menambahkan [walau pelan tapi cukup jelas didengar peserta rapat],”tampak bagai kondektur!” Ucapan tersebut tentu saja membuat peserta rapat tertawa ngakak, meski sesungguhnya terasa kecut.
Menjadi menteri, apalagi menteri keuangan yang mengatur uang negara yang ratusan triliunan rupiah memang susah. Bergaya pasti dikecam, berpenampilan sederhana juga disebut kondektur. Tapi memang itulah resikonya.
Kamera TV
Anggota DPR/MPR butuh media untuk menginformasikan dan mengkomunikasikan dirinya kepada rakyat. Tak heran bila televisi menjadi hal penting bagi mereka.
Di saat sidang, banyak anggota Dewan/Majelis mengamati ke mana kamera televisi mengarah. Tidak sedikit anggota Dewan/Majelis melakukan pendekatan kepada kru televisi agar mendapat sorotan pada waktu bersidang.
Ketika seorang anggota selalu menjadi arah kamera televisi pada saat sidang Tahunan MPR 2003, dia langsung didatangi anggota-anggota lain. Ada yang bertanya bagaimana kiat agar menjadi sasaran kamera, ada pula yang dengan sarkastis mengecamnya.
Ada pula yang punya trik agar jadi pusat perhatian televisi. Seorang anggota Fraksi Utusan Daerah berbicara berapi-api agar persoalan yang dihadapi daerahnya diselesaikan secara tuntas.
“Bagaimanapun aktor intelektualnya harus ditangkap dan dijatuhi hukuman seberat-beratnya!” ucapnya berapi-api.
Saat istirahat minum kopi, saya duduk di dekatnya, sehingga bisa mendengar pertanyaannya kepada stafnya,”Bagaimana penampilan saya tadi di televisi? Bagus nggak?” Stafnya cuma mengangguk, sambil tersenyum dan mengacungkan kedua jempolnya. Seperti Anda ketahui, itu adalah salah satu tugas staf.
Interupsi
Suatu hari, tiba-tiba Rapat Paripurna DPR “dihujani” banyak interupsi. Bahkan anggota-anggota yang sebelumnya diam, mengacungkan tangan dan sesekali berdiri menginterupsi pimpinan sidang.
“Interupsi, interupsi, Ketua,” pekik seorang anggota Dewan dengan bersemangat sambil berdiri. Tapi karena banyak yang mengacungkan tangan, pimpinan Dewan tak memperhatikan suaranya.
” You ini, masak begitu saja interupsi,” tanya saya yang duduk persis di sebelahnya.
“Ah, you kayak kagak tahu aja. Tuh liat kamera televisi kan lagi nyorot kita,” sahutnya enteng.
Simpanan
“Sebelum Rapat Kerja kita mulai, kami sebagai pimpinan ingin meminta anggota bari di lingkungan komisi ini untuk memperkenalkan diri,” ucap Ketua Komisi sembari mempersilahkan Darsuf Yusuf dari Fraksi TNI/Polri. Fraksi itu memang acapkali melakukan PAW [Pergantian Antar Waktu], yaitu penggantian anggota Dewan di dalam masa jabatan yang masih berlaku.
“Nama saya Darsuf Yusuf.” ucap Mayjen Angkatan Darat itu membuka pembicaraan. Seperti biasa, anggota baru juga harus menyebutkan tempat dan tanggal lahir, pendidikan, dan riwayat pekerjaan. Maka dia pun bercerita tentang ketiga anaknya yang sudah mulai beranjak dewasa. Lalu, “Tentang istri, saya cuma mempunyai satu,” katanya.
Tentu dia tidak bermaksud menyinggung anggota Dewan yang poligami [yang mungkin cukup banyak di DPR].
Dalam suasana hening, seorang anggota Dewan menyeletuk dari belakang,”Kalau simpanan, ada berapa orang?”
Peserta rapat tertawa. Begitu pula Menteri dan puluhan jajarannya.
Susu
Saat bercengkrama di Press Room, seorang wakil rakyat mengeluhkan berbagai pungutan liar yang dilakukan oknum pemerintah. Mulai dari yang dibungkus dengan sumbangan sukarela, uang lelah, dan lain sebagainya.
Seorang yang gemas dengan cerita wakil rakyat itu langsung menimpali. “Begituan sih, bukan cuma dilakukan pemerintah. DPR juga!” katanya.
“Sebentar, Bung,” potong anggota Dewan itu. Maka berceritalah dia bahwa saking banyaknya pungutan mereka harus menggunakan isyarat khusus. Makanya, tak heran kalau kemudian muncul beberapa istilah. Katanya, suatu hari di sebuah komisi DPR ada rapat kerja. Karena menteri berhalangan, yang datang adalah Dirjen. Di tengah rapat berlangsung Dirjen bercerita, bahwa pernah seorang pejabat berpengaruh meminta sumbangan. Dia pun melapor ke menteri, ” Ini, sih, Susu Gadis, Pak.” katanya sambil menunjukkan lembar permintaan sumbangan itu.
“Kok, Susu Gadis?” tanya Pak Menteri serius.
“Ya, maksud saya: Sumbangan Sukarela Gara-gara Disposisi.”
Sang menteri pun manggut-manggut, lalu mengeluarkan secarik kertas dari lacinya. “Kalau ini berarti Susu Perawan.” katanya sambil menunjukkan kertas tersebut kepada bawahannya.
“Kok Susu Perawan, Pak?”
“Ya, Sumbangan Sukarela Pengganti Rasa Setiakawan.”
Untung
Dalam sebuah seminar tentang amandemen UUD 1945 yang diadakan di Jakarta, panitia mengundang MPR/DPR sebagai salah satu pembicara. Teman saya yang mewakili MPR/DPR mendapat giliran pada sesi kedua. Memakai kaca mata dan peci adalah ciri khasnya.
“Nama saya Umar.” katanya memperkenalkan diri.
“Nama ini ada kepanjangannya,” katanya lagi tanpa ada yang nanya.
“Itu singkatan dari Untung Masih Ada Rambutnya,” ujarnya sambil membuka peci hitam yang dikenakannya.
Tampaklah rambutnya yang hanya tumbuh di bagian sisi kepala saja. Emmm, pantas pecinya tak pernah dilepas, gerutu beberapa peserta.
Kawin
Soal rapat di Komisi DPR. Suatu saat Komisi yang membidangi Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan mengundang seorang menteri untuk rapat kerja. Sang menteri mendapat banyak pertanyaan seputar peternakan. Intinya, para anggota komisi menyerang menteri yang dianggap tidak becus membuat terobosan-terobosan di bidang peternakan itu.
Namun rupanya sang menteri tak gentar. Berbagai pertanyaan dia jabarkan panjang lebar. Alhasil, anggota Dewan yang bertanya jadi manggut-manggut seolah mengerti, paham. Menteri itu pun menjelaskan mengapa pemerintah mendatangkan sapi dari Australia.
“Sapi itu mampu kawin delapan kali sehari,” kata sang menteri. Para anggota DPR manggut-manggut.
Tiba-tiba salah satu anggota DPR yang baru mengunjungi peternakan Burung Unta di Nusa Tenggara Timur [NTT)] nyeletuk,” Itu sih belum apa-apa, Pak.”
Sang menteri nampak terkejut mendengar sanggahan itu.
“Seekor burung unta di NTT mampu kawin 27 kali sehari,” katanya.
Boleh Keluar
Wakil Ketua DPR Soetardjo Soerjogoeritno dikenal piawai dalam memimpin sidang. Dia bisa membuat cair sidang yang biasanya tegang. Entah dengan caranya menyahuti interupsi atau mengeluarkan celetukan lucu. Tapi tak jarang pula apa yang dilontarkannya menimbulkan salah paham.
Misalnya dalam sidang yang membahas Memorandum [peringatan] II kepada Presiden Abdurrahman Wahid. Sidang berlangsung dalama suasana tegang. Antar anggota saling interupsi, walaupun tak jarang itu dilakukan hanya untuk mengulur-ulur waktu pengambilan keputusan.
Mungkin karena kesal melihat suasana perdebatan yang tak kunjung usai, Soetradjo yang memimpin sidang berujar, Yang punya keperluan, silahkan keluar.”
“Pernyataan Pimpinan Sidang jelas menyinggung kami.” kata politisi PKB DPR, Aris Azhari Siagian.
“Ya, siapa tau ada yang ingin merokok.” kata Soetradjo enteng.
Telak
Soal senang melirik dan menggoda gadis cantik ternyata tidak hanya monopoli orang muda, tapi juga anggota Dewan yang terhormat itu. Tersebutlah kisah seorang gadis manis naik lift di Gedung Nusantara I Senayan. Di salah satu lantai, seorang anggota Dewan masuk ke dalam lift. Tentu saja dia melirik si gadis dan membuka pembicaraan [tentu saja!]
“Ke lantai berapa?”
“Lantai 25. Sekretaris Pak Badu.”
“Ooo, Pak Badu. Salam untuk Pak Badu, ya. Dari Pak Anu.”
“ooo, Bapak, Pak Anu, ya?” ucap si gadis terperanjat.
“Lho, kenapa?”
“Habis, nama Bapak begitu terkenal. Semua teman menyebut Bapak sebagai anggota Dewan yang baik.”
Si anggota Dewan pun terdiam. Dalam hatinya, belum dirayu sudah duluan memuji. Sialan.
Doa untuk yang Rajin dan Malas
Kedisiplinan Anggota DPR, selalu menjadi sorotan. Sekalipun berulang kali mengulas siapa-siapa yang malas datang, perubahan belum terjadi. Ini juga tergambar pada perayaan ulang tahun DPR/MPR yang ke-58 pada tanggal 29 Agustus 2003. Undangan rapat paripurna dalam rangka ulang tahun mestinya dimulai pada pukul 09.00 WIB, tapi nyatanya, sampai pukul 9.30 WIB sidang belum kuorum. Artinya, yang hadir belum lebih dari setengah jumlah anggota. Karena itu, sidang ditunda 15 menit.
Saya tidak tahu apakah tatkala dimulai sidang sudah kuorum atau belum. Yang jelas, tempat duduk di barisan depan masih melompong. Usai Ketua DPR menyampaikan pidato ulang tahun, Prof. Dr. T. Baihaqi yang berasal dari propinsi Nanggroe Aceh Darussalam memimpin doa. Pak kiai ini terkenal rajin dan baik di Komisi maupun di Badan Legislasi.
Inilah doa sang kiai yang puitis dan humoris itu :
Ya Allah, ya Tuhan
Jadikanlah semua anggota DPR ini berdisiplin dalam berketeraturan.
Yang rajin supaya tetap rajin dan yang malas Engkai rajinkan.
Atau yang rajin Engkau beri pahala, yang malas Engkau beri hukuman.
Untuk mencapai kebaikan, kebagusan, ketentraman, kesejahteraan.
Dalam kerangka besar membangun untuk mencapai keadilan dan kemakmuran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar